Sepak bola, LSI dan Tuhan

Bagi saya, pertandingan tadi malam antara Prancis versus Rumania dalam laga Euro 2008 adalah pertandingan yang sangat membosankan. Kedua tim memainkan nada permainan yang sangat datar.

Sepanjang pertandingan, saya berada dalam kegalauan memegang remote televise. Antara harus zapping sana-sini untuk pindah channel atau tetap memelototi lapangan hijau, dengan harapan ada gol yang saya pergoki. Nyatanya, tidak satu pun gol tercipta sepanjang dua kali empat puluh lima menit. Hiburan pun terasa hambar.

Sejenak saya berpikir, barang kali lembaga survei seperti LSI (mau yang versi Saiful Mujani atau Deni JA) bisa berperan pada kasus pertandingan sepakbola. Ini penting, agar tidak ada waktu terbuang percuma dengan menonton televise karena permainan yang sangat membosankan itu. 90 menit terbuang percuma bagi mereka yang punya hobi tidur.

Saya pun berhayal…

Suatu tempo, LSI merilis sebuah survei partai Final antara Jerman versus Belanda euro 2008, satu hari jelang pertandingan dua musuh bebuyutan ini.

“Jerman menang 2-1 atas Belanda dengan sample eror plus minus satu”, demikian hasil survei LSI

Argumen mereka:

Metode kami memadukan konsep ilmu pengetahuan dengan ilmu terawang. Pemilihan sample kami lakukan dengan sangat hati-hati dengan asas kredibilitas yang dimiliki para ahli terawang. Hasil telah survei kami uji berkali-kali, lintas batas, kelamin dan strata sosial, hasilnya tetap sama:Jerman menang 2-1

Nah, paling tidak, jika hasilnya sudah ketahuan, masalahnya kemudian percaya atau tidak percaya. Mereka yang pro Belanda mungkin akan meludahi hasil survei LSI itu. Sebaliknya, mereka yang pro Jerman akan mempersiapkan ritual menonton tim kesayangnnya dengan suka cita karena kemenangan sudah di atas kertasnya LSI. Akibatnya, pilihan menonton televise sebagai media hiburan menjadi sebuah keniscayaan. Barangkali, pada saat yang sama, pendukung Belanda jangan berharap hiburan terlalu banyak dari tayangan televise saat itu karena hanya akan bermandikan air mata. Paling tidak, LSI kali ini tidak hanya membaca kecenderungan politik seorang pemilih pada satu arena pilkada saja seperti yang sering mereka lakukan, namun juga berusaha membaca kecenderungan takdir tuhan.

#####            ##########            ##############            #########################

Hayalan saya pupus saat menyaksikan Belanda versus Itali pada laga berikutnya dini hari tadi. Belanda bermain dengan sangat hebat. Itali mereka tekuk dengan skor 0-3. Pertandingannya begitu menegangkan.

Saya kemudian berpikir untuk menghapus hayalan saya sebelumnya. Biarlah sebuah pertandingan sepakbola tetap misterius, agar semuanya tetap tegang.

Tentunya, para pemilik modal akan sangat setuju dengan hal ini karena yang demikian hanya akan membuat penonton televise tetap berada di depan layar.

Ahhh, takdir tuhan memang berbau kapitalis…

Saya hanya bisa beristigfar karena menuduh yang tidak-tidak…

Ini semua gara-gara kalah taruhan…

Waduh…jadi ketahuan main judi kan…

Ampun Tuhaaaannnnn….

Ciao!!!

Terminal Senja,

Salman Hasky

                            

Media Massa BUKAN pilar Demokrasi

Saat memasuki sebuah desa, rombongan Billy the Kid melihat sebuah tulisan berbunyi : We Can’t Tolerate The Scum. Salah seorang dari rombogan Billy the Kid yang masih berusia sangat muda bertanya pada Billy siapa gerangan scum atau bajingan yang dimaksud dalam tulisan itu. Billy dengan lugas menjawab bahwa politisi, bankir dan pemilik sapi adalah bajingan yang dimaksud dalam tulisan peringatan tersebut.

 

Cerita diatas adalah sebuah cuplikan dari film Young Guns II yang bercerita tentang petualangan Billy the Kid dan kawanannya. Tentunya, John Fusco, penulis skrip film ini, tidak sembarangan mengeluarkan kata “Bajingan” untuk para politisi dari mulut Billy the Kid. Fusco bisa jadi melihat realitas betapa para politisi yang memegang peranan dalam menjalankan roda pemerintahan lebih banyak memberikan segudang permalasalahan ketimbang manfaat.

Para

politisi dimata Fusco (Atau Billy the Kid) dianggap telah gagal dalam membentuk sebuah masyarakat yang makmur. Karenanya, kata “bajingan” sangat pantas dilekatkan di dahi para politisi.

 

Itu adalah cerita dari Amerika, tempat Billy the Kid lahir. Bagaimana dengan

Indonesia

? Sebuah pertanyaan yang sangat mudah mendapatkan jawabannya.

 

Memasuki pemilihan presiden di Indonesia tahun 2009. Nama-nama calon presiden sudah bermunculan. Nama-nama para calon pemimpin Indonesia yang muncul di pemili 2009 itu adalah muka-muka lama. Yang manarik adalah pendeklarasian kembali mantan presiden Megawati Soekarno Putri oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai calon presiden dari partai berlambang kepala banteng ini. Padahal Megawati telah dianggap gagal memimpin Indonesia karenanya Ia tidak terpilih kembali pada pemilu 2004 lalu. Lalu apa sebenarnya yang membuat Megawati dan PDIP begitu yakin kalau megawati akan menang pada pemilu 2009.

 

Peta pemilih di Indonesia adalah 60 persennya merupakan lulusan Sekolah Menengah atau SMP (Data dari Sukardi Rinakit saat memberikan ceramah pada perkuliahan Persuasi dan Manajemen Pencitraan di Kelas Pascasarjana Manajeman Komunikasi Politik, 25 September 2007). Data ini paling menunjukan bahwa pengetahuan politik pemilih di

Indonesia

belum memberikan kabar yang begitu menggembirakan. Unikanya, realitas ini yang kemudian dimanfaatkan oleh elit partai untuk mengeruk suara yang banyak dari pemilih agar mereka menang pada kontes pemilu di

Indonesia

. Persis seperti Agresor Belanda yang tetap menjadikan rakyat

Indonesia

tetap bodoh agar mereka bisa lebih lama menjajah bumi

Indonesia

.

 

Simaklah ajang kampanye yang telah berjalan di

Indonesia

. Pertunjukkan goyang dangdut dan mobilisasi

massa

secara besar-besaran masih menjadi pilihan kampanye sebagian besar partai-partai di

Indonesia

. Sudah menjadi rahasia umum kalau pidato dan janji-janji yang keluar dari mulut para politisi saat kampanye adalah janji surga yang tak akan pernah terealiasi. Toh, sebagian para politisi sadar kalau masyarakat tidak akan ingat oleh janji-janji itu, atau paling tidak, tidak memperhatikan janji-janji itu, karena pemilih dapat dengan mudah dimobilisasi untuk memilih mereka tanpa mempertimbangkan rasio sedikit pun. Kebodohan pemiih mereka tunggangi dengan sangat liar.

 

Dalam realitas yang seperti itu, peran wartawan dan media

massa

sangat penting untuk menjadikan pemilih menjadi lebih rasional dalam menentukan pilihan politik mereka dalam setiap pemilu atau pilkada di Indonesia.

 

Marilah kita lihat wajah wartawan dan media massa di Indonesia agar bisa berharap mereka dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam melakukan pendidikan politik masyarakat pemilih.

 

Libelarisme dan Tabloidisasi

 

Kebebasan Pers di Indonesia memberikan ruang bagi liberalisasi industri pers kita. Saat kejatuhan Diktator Soeharto, surat kabar yang bermunculan di Indonesia bekisar antara 300 hingga 1000 surat kabar sedang stasiun radio yang muncu saat itu berkisar antara 700 hingga 1000 (Effendi Gazali, 2004, Communication of Politic and Politics of Communication in Indonesia). Jika pada masa Soeharto berkuasa, Indonesia memiliki tak lebih dari 5 televisi swasta dan satu televisi public. Ketika Soeharto jatuh, tak kurang dari lima televise swasta yang berjangkauan nasional pun muncul. Jumlah ini belum termasuk puluhan atau mungkin ratusan televise local yang semangat bermunculan di beberapa daerah.

 

Lemahnya kontrol dari pemerintah membuat peta persaingan media massa menjadi sedemikian bebas berkompetisi.. Kompetisi ini menyangkut soal penjualan dan bagiamana media massa mendapatkan rating yang cukup bagus. Rating diyakini sebagai umpan yang menggiurkan kepada para pemasang iklan. Dan, kompetisi ini kemudian menjadi sedemikian liberal tanpa adanya campur tangan pemerintah (Effendi Gazali, ibid).

 

Libeasisme berarti mengesampingkan pengawasan pemerintah dan menyerahkan sepenuhnya isi media dalam petarungan pada mekansime pasar. Akibatnya, sejelek apapun tayangan atau isi dari media massa, selama itu disukai publik maka isi atau tanyanga itulah yang tetap dipegang oleh para pengelola media massa.

 

Kondisi ini praktis berimbas pada wartawan sebagai lini terdepan media massa dalam meliputdan mencari berita. Pada massa peliputan itu, wartawan melakukan apa yang dikenal dengan sebutan self senshorship terhadapa apa berita yang layak dan tidak layak mereka liput. Ini terkait dengan kebijakan media massa tempat mereka menggantungkan hidupnya.

 

Jika saja, dahulu kontrol dilakukan oleh pemerintah, maka bisa dibilang, kali ini kontrol justru datang dari para perusahaan besar yang doyan memasang iklan di media massa tersebut. Inlah hasil dari libelarisme pda sistim media massa di rating dan iklan telah menjadi tuhannya media massa.

 

Beberapa waktu lalusaya bekerja pada sebuah media massa yang merupakan salah satu grup media massa di Indonesia. Suatu hari, sampailah saya pada sebuah peliputan yang konon merusak wibawa sebuah departemen di Indonesia. Apa disangka, berita saya memang naik terbit namun isinya telah berubah menjadi sebuah sanjungan pada departemen tersebut. Tak lama saya paham kalau departemen tersebut adalah langganan setia pengiklan di media tempat saya bekerja dahulu itu.

 

Cerita lainnya adalah seperti ini, terkait dengan keinginan wartawan tempo untuk memejahijaukan PT Telkom karena telah menyadap telepon wartawan tempo tersebut. PT Telkom pun melakukan kunjungan kerja ke redaksi Tempo sebagai tanggapannya atas niatan wartwan tempo itu. Sebelum menyambut PT Telkom, manajemen Tempo mengecek buku catatan seberapa sering PT Telkom melakukan pemasangan iklan di Tempo. In terkait dengan bentuk ramah tamah yang akan mereka lakukan terhadap PT Telkom (Ceramah Bambang Harimurti di Kelas Manajemen Komunikasi Politik angkatan 2006 pada mata kuliah Politik Komunikasi tanggal 20 September 2007)

 

Sejalan dengan kenyataan sistim media massa seperti ini, maka wartawan pun hanya melakukan praktek kerja yang pada gilirannya hanya membuat medianya berdamai dengan para pemasang iklan. Inilah kiranya, mengapa pada masa sekarang ini, tabloidasasi menjangkiti isi media massa. Colin Spark menyebutkan karakteristik utama dalam tabloidisasi sebisa mungkin hanya berbicara sedikit tentang politik, ekonomi dan masyarakat dan lebih banyak berbicara tentang olah raga, skandal dan hiburan (Brian Winston, Toward Tabloidization? Glasgow Revisited 1975-2001, Jurnalism Studies, Volume 3, Number 1, 2002).

 

Media massa dalam hal ini punya dalil mengapa mereka lebih cenderung suka melakukan tabloidisasi pada isi media massa mereka. Dalilnya adalah, karena masayrakat memang menyukai isi media yang seperti itu, karena isi tersebut laku dijual. Wartawan pun lebih banyak bicara sesuai dengan keinginan media pengelola dan manajeman media massa tempat mereka bekerja.

 

Ternyata, tabloidisasi itu merambah juga pada saat media massa berbicara masalah-masalah politik. Kata kuncinya adalah sensasi yang dilakukan oleh elit politik. Simak misalanya, berita isu pernikahan Presiden SBY dengan Ibu Rini sebelum masuk dirinya masuk ke Akabri. Media massa begitu gencar memberitakan isu ini. Kala itu, kita hampir tidak bisa membedakan mana tantang berita sungguhan dan mana yang sekedar infotaiment. Padahal isu ini tak jelas keterkaitannya dengan kesejahteraan rakyat. Media massa toh pada akhirnya tetap berlomba-lomba memberitakan isu ”sampah” tersebut.

 

Sejatinya, media massa paling tidak memiliki empat fungsinya ketika berbicara pada masyarakat. Empat fungsi itu oleh Wright disebut dengan fungsi pengawasan lingkungan, fungsi membantu masyarakat mengawasi lingkungannya, fungsi menyampaikan warisan budaya, dan yang terakhri adalah fungsi hiburan (Reed H Blake, Edwin O. Haroldson, Taksonomi konsep Komunikasi, Papyrus, 2005).

 

Sayangnya, ketika iklan dan rating menjadi segala-galanya, media massa lebih cenderung menekankan pada aspek hiburan ketika tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

 

Pada tataran konsep, Weaver dan Wilhot menyebutkan adanya tiga tipologi wartawan. Pertama adalah wartawan sebagai intepreter atau pembawa misi dan ideologi tertentu ketika melakukan tugas jurnalistiknya. Tipologi wartawan seperti itu adalah wartawan yang tidak netral dan memihak pada ideologi tertentu. Tugas jurnalistiknya itu ia pakai untuk mempengaruhi masyarakat agar memiliki ideologi yang dianut berkembang dan menjadi pegangan masyarakat luas.

 

Kedua adalah wartawan sebagai disseminator yang berarti wartwan hanya sebagai pembawa pesan atau sebagi cermin realitas atas segala peristiwa yang terjadi di tengah masyarakatnya. Sebagaimana halnya cermin, maka wartwawan hanya melaporkam kejadian apa adanya tanpa adanya unsur menambah-nambah atau mengurangi berita akan perintiwa itu. Disini, tidak ada misi wartawan untuk memasukkan nilai-nilai tertentu ke tengah masyarakat karenya, wartawan dalam tipologi ini bertindak dengan netral ketika melakukan tugas jurnalistiknya.

 

Ketiga adalah wartawan sebagai adversary atau anjing penjaga yang selalu melakukan kritik terhadap segala kebijakan pemerintak. Tujuannya utamanya agar pemerintahan yang sedang berjalan dapat dengan sempurna melakukan pembangunan hingga terjadi kesejateraan masyarakat secara merata (Wolfgang Donsbach dan Thomas Patterson, Political News Jurnalist, dalam Comparing Political Communication, Theories Cases and Challengges, Cambridge, 2004).

 

Kungkungan kekuasaan selama 32 tahun yang dilakukan oleh Mantan Presiden Soeharto membuat wartawan di Indonesia tidak terbiasa melakukan apa yang disebut dengan jurnalisme investigasi. Jurnalisme tipe ini diyakini sebagai jurus ampuh agar wartawan dapat melakukan kritik dan kontrol terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa. Karena secara empiris wartawan tidak terbiasa melakukan jurnalisme investigasi maka, wartawan indonesia lebih senang melakukan tipe peliputan yang biasa dikenal denhgan talking news. Talking news berarti memberitakan apa yang dikatakan oleh para elit politik dan para politikus yang pada pernyataan mereka selalu mengatasnamakan masyarakat.

 

Akibatanya, wartawan terjebak pada perikaian antar elit politik hingga membawa masyarakat pada kegalauan politik yang luas biasa. Padahal, salah satu sisi negatif dari talking news adalah adanya transformasi ”pernyataan” menjadi kenyataan tanpa adanya usaha untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

 

Jika media massa telah men-tuhankan rating dan iklan dan wartawan, sebagaimana Weaver dan Wilhot menyebutnya sebagai disseminator dengan talking newsnya, kita tidak bisa berarap media massa melakukan pendidikan politik kepada masyarakat Indonesia agar mereka menjadi dewasa secara politik. Dengan demikian, elit politik yang disebut oleh Billy the Kid sebagai kawanan bajingan akan terus melanjutkan tariannya muslihatnya untuk mendapatkan kekuasan yang diincar. Walhasil, mereka yang saat masih berfantasi bahwa pers adalah pilar keempat dari sistim demokrasi perlu sedekit sadar. Karena ketika pers telah menjadi sebuah industri, ia tidak jauh berbeda dari produk-produk industri lainnya seperti otomotif atau produk rumah tangga. Bambang Harimurti sebagai direktur produk majalah dan koran dengan merek dagang Tempo, juga perlu insaf kerena ia masih melebelkan wartawan sebagi ”the truth seeker”. Sebuah fantasi yang sangat berlebihan.

 

Kini, kita hanya biasa berharap pada kalangan akademisi dan komunitas-komunitas yang memang memberikan perhatian akan pendidikan politik kepada masyarakat, agae masyarakat menjadi dewasa akan secara politik dan tidak ditunggangi oleh para elit politik untuk bisa berkuasa di negeri ini.

Persekongkolan Dua Musuh

Rustam keringatan. Ia duduk di atas kursi goyang. Tangan lelaki tua itu memegang secarik kertas undangan. Sesekali ia tegaskan kembali guratan-guratan tinta dalam kertas itu. Kursi malas tetap bergoyang. Tak mampu bertahan terlalu lama, ia pergi ke arah telepon. Lalu ia  hubungi Gungun, teman di kesatuannya dahulu ketika jaman sedang dicekoki peperangan.
Tanpa panjang lebar, Rustam langsung ke arah topik pembicaraan tatkala telpon telah tersambung ke tangan Gungun.
“Kau sudah terima surat undangan itu?” tanya Rustam
“Tadi pagi. Kau akan datang? Nampaknya komandan baru gede itu mengharapkan kita untuk datang.”
“Ini bukan masalah datang atau tidak. Kompeni-kompeni keparat itu tak tahu malu untuk datang lagi ke sini. Lagian buat apa kita bikin pesta penyambutan segala. Harusnya kita dor mereka. Meskipun acaranya ramah tamah antar pejuang dahulu, tapi kita harus lihat dari sisi lain. Jangan-jangan ada apa-apanya. Jangan-jangan mereka hanya ingin menertawakan kita yang meskipun telah merdeka tapi masih kere. Kau musti ingat Gun, mereka yang buat Burhan mati”
“Ya, mungkin memang ada apa-apanya. Tapi kompeni-kompeni itu katanya kan Cuma ingin berwisata ke sini. Katanya, mereka berinisiatif juga ingin beramah tamah dengan kita-kita sebagai eks musuhnya dahulu. Kalau memang Cuma ingin menertawakan keadaan kita, kita usir saja mereka.”
“Usir?
“Ya, Usir”
“Bisa?”
“Ya bisa dong. Kita kan bangsa merdeka. Dahulu sebelum merdeka saja kita bisa pukul mereka. Kenapa sekarang tidak bisa. Bagaimana kau datang?”
“Kalau begitu boleh saja. Tapi ingat, aku tetap tak menghargai bajingan-bajingan itu. Okeh, sampai ketemu hari Selasa. Kau jemput aku ya, kita kesana sama-sama.”
Pada hari selasa, Rustam mengenakan topi sekaligus seragam korpsnya pada jaman perjuangan dahulu sebagaimana diamanatkan dalam surat undangan. Beberapa saat kemudian Gungun datang menjemput. Keduanya lalu bertemu di ruang tamu.
“Siapa dapat menghalangi dua lelaki tangguh ini?” tanya Gungun sambil membentangkan kedua tanganya.
“Tidak siapapun,” Rustam menjawab pertanyaan Gungun yang biasa diutarakan kalau mereka akan berangkat ke medan tempur dahulu. Setelah berpelukan keduanya lalu sepakat untuk langsung ke tempat pertemuan itu.
Dalam ruangan pertemuan itu (atau acara ramah tamah) tampak bule-bule yang sudah keriput dan pribumi yang telah uzur pula. Jika saja ada mereka yang masih terlihat muda, maka itu adalah panitia atau generasi masa kini dari kesatuan militer.
Tampak orang yang kini memanggul pangkat tinggi di pundaknya sedang berpidato yang diselingi dengan terjemahan dari seorang penerjemah. Agar terkesan lebih akrab, panitia sengaja membaurkan tempat duduk antara eks pejuang bagi bangsa masing-masing itu. Rustam dan Gungun duduk diantara dua eks kompeni. Gungun tampak asik beramah tamah dengan bule di sebelah kanannya. Gungun memang sangat mahir bahasa bule-bule itu. Sedang Rustam, demi alasan nasionalisme yang tinggi ia tak mau belajar bahasa penjajah. Sebab itu, entah karena tidak bisa bahasa bule, atau gengsi atau karena tak ingin bicara,  ia tidak memberikan perhatian pada bule disampingnya. Bahkan Rustam pasang tampang laksana suasana masih perang. Matanya memang sedang memerhatikan orang sedang berpidato, tapi kuping dan pikirannya tampak menyeberang ke jalur lain.   Rustam mengingatkan Gungun untuk tak terlalu mengasih hati pada kompeni di sampingnya. Apalagi, menurut Rustam, orang yang diajak bicara oleh Gungun tampangnya sangat meremehkan mereka berdua sebagai bagian dari generasi yang telah merdeka.
Selesai pidato dari pihak penyelenggara, maka selanjutnya adalah pidato dari eks pejuang tanah air. Kebetulan yang mendapatkan kehormatan itu adalah Sutarjo, bekas ketua regu Rustam dan Gungun. Rustam tahu betul bagaiamana track record Sutarjo. Dalam pikiran Rustam, Sutarjo terlalu kompromis, tidak punya prinsip dan sedikit penakut ketika perang dahulu. Tak heran ketika nama Sutarjo dipanggil oleh pembawa acara, Rustam mengeluh hingga Gungun meledeknya dengan tawa kecil.
Sepanjang Sutarjo berpidato, Rustam selalu berdecak kecewa karena pidatonya dinilai memble untuk ukuran seorang pejuang.
Selanjutnya adalah pidato dari perwakilan tamu. Rustam segera menginstruksikan Gungun untuk menerjemahkan pidato tersebut khusus untuknya.
“Bukankah di depan sudah ada penerjemah? Kau tak bisa mendengarnya?”
“Aku tidak percaya dia, aku lebih percaya kau. Terjemahkan secara rinci. Ayo cepat siap.”
Maka mulailah Gungun menerjemahkan pidato perwakilan tamu, special untuk Rustam.

Selamat siang, Atas nama ratu, kami semua ke Indonesia…

“Dia masih bawa-bawa nama ratunya ke sini?” potong Rustam “kenapa tidak dia bawa sekalian mahkotanya ke sini, biar sekalian aku kencingi sekarang juga. Hayo, lanjutkan!” sambungnya sambil memukul kepalan tangannya di atas pahanya.

Semuanya memang tampak berbeda sekarang dibandingkan ketika kita perang dulu….

“Berbeda kepalamu,  kau masih sama gemblung! Teruskan….hayo dia bilang apa lagi?”

Ini semua atas inisiatif kita semua dari negeri kincir angin  untuk datang ke sini dalam rangka akrab-akraban sekaligus melihat peninggalan-peninggalan bersejerah yang pernah kami kami tinggalkan di sini. Kami sangat sedih karena beberapa dari peninggalan itu tak terawat dengan baik…

“Kau dengar Gun, Dia mulai menghina”

Dengan demikian, Kami sangat ingin agar Indonesia memeliharahanya dengan baik situs-situs peninggalan itu, agar kiranya…

“Setan!”
“Husss…kau bicara terlalu keras.”
“Husss bagaimana, Kita sudah merdeka masih dia suruh-suruh juga.!

Kita akan memberikan bantuan dalam rangka memelihara dan melestarikan situs-situs peninggalan kami…

“Kau ngerti Gun, dia itu sebenarnya bilang kita ini miskin. Tai macan!
Demikian kiranya, dengan acara ini kita bisa menjalin kerja sama sekaligus menghapus luka dan dendam yang pernah tertoreh pada diri kita masing-masing. Terima kasih.

Tamu yang berpidato itu kembali ke tempat duduknya. Rustam berdiri seraya menarik tangan Gungun untuk berdiri juga. Ia meminta Gungun untuk menerjemahkan secara lengkap dan detail apa yang akan dia bicarakan untuk tamu-tamu bule itu.
Kemudian Rustam memulai berkata :

“Benda-benda yang telah kalian tinggalkan di Indonesia memang sangat berharga buat kami. Itu semua akan kami lestarikan untuk kami katakan pada anak cucu kami bahwa kami pernah dijajah tapi dengan semangat yang tinggi kami mampu mempersilahkan penjajah itu untuk pergi dari tanah air kami. Oleh karenanya penting bagi kami untuk selalu menjaga situs sejarah itu. Masalah bantuan itu, kami sangat menghargainya,  tapi biarkan kami sendiri yang mengurusnya untuk bisa membuktikan bahwa kami mampu mengurus dirinya sendiri sebagai bangsa yang merdeka.”

Kemudian bule yang tadi berpidato maju kembali dan mulai berkata-kata dan Gungun sibuk menerjemahkan

Kami sangat mengerti apa yang Anda inginkan. Kami juga ingin bangunan-bangunan bersejarah itu tetap kokoh agar jika anak cucu kami bermain-main ke Indonesia mereka akan melihat bahwa kakek-kakek mereka pernah menguasai tempat ini hingga dengan leluasa membangun apa saja yang bisa dibangun. Oleh karenannya ijinkan kami untuk memberikan bantuan dalam rangka pelestarian situs-situ sejarah tersebut. Terima kasih.

Tamu bule itu duduk dan Rustam kembali berpidato. Suasana makin panas. Rustam dan Bule yang berpidato itu berbalas pantun dan Gungun bingung menerjemahkan. Kata-kata dan kalimat yang keluar sudah terasa pedas. Panitia turun tangan. Acara ramah-tamah terasa hambar dan penuh curiga. Rustam masih belum puas dengan apa yang telah terjadi dan bule itu setali tiga uang. Keduanya melanjutkan untuk kembali berbalas pantun.
Tak disangka setelah bergumul dengan argumen masih-masing, Rustam dengan eks pejuang tanah air dan Bule yang berpidato dengan rombongan tamu yang lain keluar gedung dengan tangan dikepal. Mereka bersatu menuju tempat yang disebut-sebut sebagai situs sejarah. Sampai tengah jalan mereka putar arah karena baru sadar bahwa tempat acara tadi masuk kategori situs sejarah. Panitia semakin bingung ketika para eks pejuang itu terlihat balik ke arahnya dengan muka perang. Dengan semangat perjuangan mereka berniat merubuhkan tempat itu dan situs-situs sejarah yang lain karena diyakini sebagai simbol dari kekejaman sejarah dan malapetaka kemanusian.
Dalam bangunan itu mereka mengamuk hingga lupa diri dan lupa segalanya. Mereka rasakan seakan-akan bangunan itu balik memarahi mereka dengan amukannya sendiri. Kaca pecah, atap runtuh dan dinding roboh. Mereka terjebak di dalamnya. Setelah kasak kusuk, mereka menemukan lorong jalan di bawah bangunan. Dengan komando Rustam dan Bule yang berpidato, mereka menelusuri lorong jalan tersebut. Apa daya mereka-mereka itu sudah tua dan akhirnya tersesat. Dalam kesesatan itu,  terdengar suara tawa yang menggema sangat kencang dan jernih. HAHAHA…!
“Siapa itu?” Rustam berteriak.
“Mau tahu saja?” kata suara itu
“Dimana kita?”
“Di akhirat, you know.”
“Kurang ajar kamu. Jangan main-main dengan kami.”
“HAHAHA…Sudah koit masih keras kepala. Dasar tentara!”   

SalmanHasky

dari Terminal Senja

Bendera 17 Agustus

Dengan semangat kemerdekaan, Slamet, hansip warga kampung naga, berjalan menuju rumah Pak Hartono. Pak Hartono sendiri dari tadi sudah menunggunya dengan deg-degan sambil berusaha mengintip dari pagar rumahnya kedatangan Slamet. Ketika Slamet muncul, Pak Hartono langsung menyeretnya masuk ke ruang tamu.
“Mana? Dapatkan?”, ujar Pak Hartono langsung membuka pembicaraan.
“Dapat. Tapi sabar sedikit Pak, saya tarik napas dulu. Hampir ketahuan saya tadi subuh sama pembantunya. Tapi, karena saya lincah maka bendera ini berhasil saya sita.”
Slamet menyerahkan benda yang dimaksud Pak Hartono. Tuan rumah membentangkan bendera itu di lantai. Pak Hartono berdecak melihat bendera itu. Ia mengangkat alis pada Slamet sambil menunjuk bendera itu. Slamet mengangguk.
“Tak bisa tidak. Ini harus dihentikan. Kali ini harus berhasil. Si Toha makin kurang ajar saja. Benderaa ini kita ambil sebagai barang bukti ke Pak RT. Tapi sebelum ke Pak RT, ada baiknya kita catat dulu kesalahan-kesalahan bendera ini,” kata Pak Hartono sambil kemudian berteriak pada anaknya untuk dibawakan pulpen dan secarik kertas.
Pak Hartono menilik dengan seksama bendera itu kemudian menyebutkan satu persatu kesalahannya. Slamet mencatat dengan teguh. Tapi keseriusan mereka terganggu oleh istri Pak Hartono yang sedang mengepel lantai. Keduanya tergusur oleh gerutu istri pak Hartono dan segera transmigrasi ke ruang belakang rumah. Pak Hartono berkata pada Slamet bahwa di ruang belakang cahayanya lebih bagus hingga mereka dapat dengan sangat teliti mencatat apa saja yang musti dicatat dari bendera itu.
Ketika yakin semuanya telah ditulis Slamet, Pak Hartono mengajaknya untuk langsung ke rumah Pak RT. Tapi sebelumnya ia mengganti kaus kutang dan sarung yang sedang bergelayut di badannya dengan pakaian yang agak pantas untuk menghadap Pak RT.
Di ruang tamu rumah Pak RT, Pak Hartono membentangkan bendera itu ke meja tamu.
“Tuh Pak RT, lihat!” ucap Pak Hartono.
“Ada apa dengan bendera ini?”
“Perhatikan dong pelan-pelan, masa Pak RT ga bisa lihat. Ayo coba tegesin”
“Ini bendera merah putih kan? Terus kenapa?”
“Ini bukan merah putih, tapi coklat muda dan kuning. Ini bukan Bendera Indonesia. Nodanya di sana-sini. Tuh lihat ada noda. Noda. Noda! Mana ,Met, kertas yang tadi. Kasih ke sini. Nih saya bacakan, Pak RT. Warna merah jadi coklat muda. Warna putih jadi kuning. Ja…Ja…,  hah tulisan kaya cakar ayam. Pak RT bisa lihat sendiri kan. Lihat jahitannya saja sudah kendor. Kaya kulit nenek-nenek saja.”
“Lho, Pak Hartono, ini kan cuma butek dan luntur saja warnanya. Kalau dicuci juga agak bersihan. Mungkin kalo beli yang baru tidak mampu barang kali. Memangnya ini bendera punya siapa?”, kata Pak RT mencoba bijaksana.
“Ga mungkin tidak sanggup beli, Pak RT, wong rumah kontrakannya saja banyak. Tanggungan sudah tidak ada. Ini sudah penghinaan, Pak RT. Masa bendera macam gini yang dipasang di depan rumah. Bagaimana kalau para pejuang kemerdekaan dahulu melihat bendera ini yang dipajang di depan rumah. Ini sudah pengkhianatan pada sangsaka merah putih. Ini subversif, Pak RT!
“Memangnya bendera ini punya siapa sih, Pak Hartono?”
“Siapa lagi kalau bukan si Toha tua keladi itu, Pak RT.”
Mengetahui siapa pemilik bendera itu, Pak RT tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala. Kalau sudah menjelang tujuh belas Agustusan,  memang Pak Toha sering dijadikan biang keladi permasalahan wilayah kampung naga oleh beberapa warga. Semuanya bermula ketika dua puluh tahun yang lalu Pak Toha terciduk aparat keamanan karena dituduh bersekongkol dengan masyarakat yang ingin menyerang sebuah kantor polisi karena menahan rekan-rekan mereka. Pihak kepolisisan waktu itu menjawab tuntutan pembebasan rekan mereka dengan berondongan peluru panas. Banyak yang mati dan tertangkap. Pak Toha masuk dalam salah satu yang tertangkap itu.
Pengadilan memvonis Pak Toha dengan hukuman lima belas tahun penjara karena dituduh makar dan mengancam stabilitas negara. Kontan saja perekonomian keluarga Pak Toha mengalami krisisnya. Tapi untungnya ketiga anak Pak Toha sekarang sudah menjadi orang karena mampu mengunyah bangku pendidikan sampai tingkat yang lumayan tinggi untuk ukuran Indonesia, berkat bantuan sebuah yayasan. Kini ketiga anak Pak Toha sudah berkeluarga dan menjalani kehidupannya masing-masing. Istri Pak Toha menemui ajalnya ketika umur hukuman Pak Toha di bui masih tujuh tahun.  Setelah bebas hukuman, Pak Toha tinggal seorang diri dan sesekali dikunjungi oleh anak-anaknya.
Suatu hari rumah Pak Toha kena rencana perluasan sebuah pelabuhan. Dengan modal uang gusuran, Pak Toha mampu membeli sebuah rumah dengan beberapa petak kontrakan di daerah yang cukup jauh dengan tempat asalnya. Kegiatan Pak Toha kini hanya mengajar ngaji di sebuah mushola di daerahnya.
Gonjang-ganjing  tentang siapa Pah Toha sudah terdengar ketika Pak Toha baru saja tinggal di daerah kampung naga. Suatu waktu warga kecewa dengan rencana bantuan pemerintah untuk mengaspal jalan gagal. Warga mencoba mencari titik lemah emohnya pemerintah memberi bantuan tersebut. Entah siapa yang mulai, warga mulai menuduh Pak Toha sebagai biang keladinya. Tapi kala itu warga hanya diam.
Tahun kedua, RT setempat tidak berhasil mempertahankan juara kebersihan tingkat kecamatan untuk kesepuluh kalinya. Ibu-ibu PKK tak jadi menggondol piala nasi tumpeng tingkat RW untuk kelima belas kalinya.Entah siapa lagi yang memulai, kambing hitam diarahkan pada hidung Pak Toha. Tahun Ketiga kampung naga gagal menjadi wakil kelurahan untuk lomba membaca Al-Quran tingkat kecamatan. Usut-demi usut, beberapa warga menyangka panitia mencoret mereka dari daftar peserta karena yang akan membacakan Al- Quran adalah hasil didikan Pak Toha di mushola. Tapi ekspresi kecewa warga kampung naga hanya sebatas bisik-bisik.
Klimaksnya ketika terjadi pemboman di tanah air. Pak Toha dicurigai oleh warga ikut terlibat. Mereka pun menarik anak-anak mereka yang belajar ngaji dengan Pak Toha karena takut diajari yang bukan-bukan tentang panji-panji agama. Kalau sudah melihat itu, Pak RT selalu geleng-geleng kepala.
“Jadi harus diapakan bendera ini, Pak Hartono?” tanya Pak RT.
“Lho, bukan benderanya. Bendera kan tidak salah apa-apa. Orangnya itu yang harus diapa-apakan. Bendera ini bukti bahwa si Toha itu anti Indonesia, tidak pancasilais. Pak RT harus ambil tindakan tegas dong, jangan cuma senyam-senyum. Bapak kan pimpinan kita-kita. Apa mau, Pak RT, kampung naga ini dituduh yang bukan-bukan sama pemerintah? Bisa bangkrut kita, Pak RT, tidak bisa juara apa-apa lagi.”
Pak RT menjadi bingung dengan tuntutan Pak Hartono yang semakin nyerocos ke sana kemari. Ketika pembicaraan sedang hangat, mereka mendengar suara sandal berjalan. Ternyata itu adalah Pak Toha. Melihat Pak Toha datang, Pak Hartono spontan menghentikan pidatonya dan menyuruh Slamet untuk menyembunyikan bendera yang sedang disita itu. Pak RT segera menyuruh Pak Toha untuk masuk ke ruang tamu. Setelah basa basi sedikit Pak Toha menyatakan niatnya datang ke rumah Pak RT.
“Begini, Pak RT, tadi pagi bendera saya hilang, padahal tadi malam masih ada. Tapi tak apalah, lagian benderanya sudah jelek. Jadi begini Pak RT, kalau Pak RT hari ini ke tokonya, saya ingin nitip dibelikan bendera yang masih baru. Kalau bisa yang warnanya masih ngejreng.”
“Lho, kenapa musti jauh-jauh Pak Toha, Pak Hartono kan jualan bendera. Iyakan Pak Hartono?”
Pak Hartono mengangguk dan tersenyum dengan terpaksa. Setelah itu ia menyuruh Slamet mengambil satu helai bendera dari istrinya di rumah. Ketiganya lalu berbincang-bincang. Pak RT menanyakan kondisi kesehatan Pak Toha. Pak Hartono menanyakan pada Pak Toha apa yang dilakukan orang-orang dalam penjara kalau memperingati kemerdekaan. Pak RT bertanya masalah anak-anak pada Pak Toha. Pak Hartono menanyakan pada Pak Toha makanan di penjara. Slamet datang membawa bendera yang masih baru.
Setelah membayar pada Pak Hartono, Pak Toha mohon pamit. Setelah itu, Pak RT berujar pada Pak Hartono bahwa segala masalah dengan Pak Toha sudah selesai. Pak RT mohon dengan sangat kepada Pak Hartono untuk tidak menggunjing tentang Pak Toha lagi karena masalahnya ia anggap telah mencapai garis finish. Pak RT juga menegur Slamet kalau ingin bertindak sebaiknya dibicarakan dulu dengan dirinya. Pak Hartono dan Slamet minta undur diri juga. Kini pintu rumah Pak RT telah tertutup.
Baru saja Pak RT ingin mandi pagi, isterinya bilang kalau Pak Hartono dan Slamet telah menunggu di ruang tamu. Pak RT segera mengampiri mereka. Melihat Pak RT muncul Pak Hartono langsung berkata
“Kita harus segera lapor polisi, Pak RT.”
“Ada apa lagi, Pak Hartono?”
“Apalagi kalau bukan si Toha, duitnya yang dikasih buat bayar bendera tadi sudah butek. Pasti duit palsu!!!”

SalmanHasky,

dari Terminal Senja

Taman Menteng

Suatu senja, saya pun menjumpai taman menteng. memang pada saat peresmian taman ini, saya berjumpa dengan taman ini. tapi kali ini agak berbeda, saya berjumpa dengan taman ini bukan karena tugas, tapi justru meregangkan otot sehabis bertugas. Rasanya, LAIN BUNG!

Saya begitu menikmati pemandangan yang ditawarkan taman ini ketika senja hadir di langit Jakarta. mereka yang bermain futsal, mereka yang bermain basket, mereka yang bercanda tawa, mereka yang berfoto ria, dan mereka yang sekedar menunggu kemacetan

semuanya jadi satu, lintas umur, kelas sosial dan tentu saja jenis kelamin.

Tanpa malu-malu, saya harus angkat topi untuk, Sutiyoso, sang gubernur Jakarta, yang berani mengubah stadion milik persija ini jadi taman yang bagi saya tak hanya seksi tapi juga menentramkan.

di Taman ini, mereka bebas berolah raga, bebas tertawa-tawa dan tentu saja bebes bereksperesi dalam jimpratan kamera.

Taman menteng kemudian menjadi tempat dimana kebebasan ekspresi adalah hal yang bisa direnggut, tanpa mengeluarkan keringat setitik pun.

Sebagai sebuah wilayah publik, taman menteng bisa menjadi arena dimana ruang publik bisa diwacanakan. saya harap tidak berlebihan, ketika keniscayaan konsep habernasian soal ruang publik dilekatkan pada taman ini.

Taman ini bisa dijadikan lokasi publik berekpersi dengan melepaskan hegemoni modal, kelas dan jenis kelamin. Arena dimana ekspresi pembicaraan, eksperesi bahasa dan eksperesi tanda jauh dari kungkungan kekuasaan.

dari taman ini, bisa muncul berbagai komunitas seperti komunitas olag raga, komunitas sastra, komunitas seni, dan komunitas pencinta taman.

pada sebuah komunitas, proses deliberasi bisa saja lahir. karena keluarga sebagai agen sosial tak lagi begitu brilyan mempengaruhi sikap dan prilaku individu. komunitas kini jadi salah satu faktor yang memegang kendali individu untuk menentukan sikap.

deliberasi dalam arti luas memberikan alasan yang rasional kenapa individu bertindak dan beraksi. bertindak rasional dalam pilihannya menyenangi sebuah hobi, mengkonsumsi budaya pop, sampai alasan yang rasional ketika harus menjatuhkan pilihan politik pada sebuah pemilu.

ketika taman menteng memberikan kesempatan lahirnya komunitas-komunitas baru di Jakarta, maka pada saat ini deliberasi menjadi sebuah keniscayaan.

Ternyata, tak hanya pemandangan yang begitu seksi yang ditawarkan taman menteng ketika senja ada di langit Jakarta. Tapi sebuah masa depan yang cerah ketika kebebasan berekspresi semakin mantap dengan adanya taman ini.

Taman menteng melahirkan kembali sebuah harapan.

semoga tidak berlebihan.... 

Tato Tante Tuti

Akhirnya, seperti yang telah diperkirakan oleh para analis dunia asmara, cinta Barjo berbalaskan hampa. Kekasihnya, Sri Lestari, lebih memilih untuk membina rumah tangga dengan pelaut asal Madura.
Barjo kesal. Ia mengeluarkan handphone-nya dan mengirim pesan SMS ke kerajaan langit. Ia tulis : CUKUP!!! JGN KAU KIRIM LAGI PETAKA BERNAMA CINTA ITU!!!

Di atas gedung pencakar langit, Barjo merenungi nasibnya, Barang kali setelah itu, ia akan bunuh diri. Ahhh...semoga saja tidak.

JREEEENGGG.....nada sms berbunyi dari HP barjo. Ia tengok pesan dalam sms itu. SORRRY-MENYORI BOS ANDA SALAH KIRIM. INI DINAS KEBERSIHAN KERAJAAN LANGIT BUKAN DINAS ASMARA. BTW, PUNYA NOMORNYA EVA ARNAZ? BLS, GA PKE LAMA!!!

Setan!!! Rasa kesal itu makin membetot kepala Barjo. Ia kemudian melangkah, berlari entah kemana. mengikuti arah angin.

dalam pelarian itu barjo bertemu dengan perempuan yang kemudian dikenal bernama tuti, tepatnya tante tuti.

tante tuti berparas aduhai, lelaki mana yang tak tergoda olehnya harus menanyakan kejantanannya. Termasuk Barjo. dalam keadaaan sakit hati kejantanannya tertantang. Barjo panas, tante tuti panas. keduanya lalu berpanas-panasan di WC Umum sebuah terminal.

Tak disangka, keduanya dipergoki oleh Satpol PP yang kemudian lari tunggang langgang sambil berteriak....

GAWATTTTT. TANTE TUTI BERCINTA
GAWAAAAAT. ADA YANG BERCINTA DENGAN TANTE TUTI
GAWWWWAT. TATO TANTE TUTI BISA BANGKIT
GAAAAAAAAAWWWWWWWAAAAAAATTTTTT!!!!!

begitulah. kisahnya seperti ini. dahulu, di belahan gunung utara, suami tante tuti sering semedi. satu minggu sekali dalam satu bulan. Menurut kisah dari seorang juru tulis, suami tante tuti melakukan itu agar mereka dapat anak. padahal mereka sudah menikah lebih kurang 9 kali lebaran.

suatu hari, ketika bersemedi, tante tuti maen gila sama seorang pamong desa, dan suami tante tuti dapat bocoran ceritanya. Suami tante tuti kesal. anak ga dapat, istri maen gila.

Maka, ia berniat menghukum tante tuti yang sudah pasrah mau diapakan saja asal tidak dicerai. maka sebagai hukumannya tante tuti harus bersedia di tato oleh suaminya. Masyarakat kala itu bingung, kok suami tante tuti malah mentato tante tuti bukan menceraikannya atau mungkin mengusirnya dari rumah...entahlah, orang yang patah hati memang ada saja kelakuannya.masyarakat pun mafhum.

tato itu pun selesai. gambarnya sampai sekarang masih misterius. Tak ada yang tahu, kecuali tante tuti dan suaminya. Yang pasti selesai mentato suami tante tuti wafat. Innalillahi!

tapi, masyarakat menemukan wasiat yang ditulis suami tante tuti sebelum wafat.
SAYA TINGGALKAN ISTRI TERCINTA SAYA BERNAMA TUTI DAN TATONYA. BARANG SIAPA YANG BERCINTA DENGAN TUTI SETELAH TATO DI DADANYA DIBUAT MAKA DAERAH INI AKAN TERTIMPA BENCANA HEBAT.  SAYA AKAN SEGERA MEMBERITAHUKAN GAMBAR TATO DI DADA TUTI. TATO ITU BERGAMBAR....AHHHHHH SAMPAI JUMPA LAGI DI AKHERAT!!!

Begitulah, sebelum sempat menuliskan gambar tato itu, suami tante tuti keburu game over. tato itu masih misterius sampai sekarang...

begitulah ceritanya, cinta barjo pada sri lestari tak hanya membawa malapetaka pada jiwa barjo sendiri tapi juga mengancam stabilitas daerah yang tidak mau disebutkan namanya itu. kenyataannya kemudia barjo telah bercinta dengan tante tuti...tante tuti telah bercinta dengan barjo. Malapetaka itu akan datang....

masyarakat di daerah yang tak mau disembunyikan namanya itu telah eksodus ke daerah tetanganya. sumpah serapah telah mereka alamatkan pada barjo dan tante tuti. suatu hari jika hari memang keadaan telah tenang mereka berjanji akan mengusir tante tuti dari daerah mereka. itu lah hasil rapat mereka sebelum gerakan eksodus itu.

Kini di daerah yang tak mau disebutkan namanya itu hanya tinggal barjo dan tante tuti yang sedang mabuk asmara di dalam metromini yang terparkir dalam terminal.

"tato mu bagus sekali, bikin dimana?" tanya barjo
"di Blok M," jawab tante tuti. Astaga dia berbohong
"bagus sekali. Tapi akau memang selalu suka dengan gambar..."
sebelum melanjutkan menyebutkan gambar tato itu, tante tuti memotong omongan barjo. Ia sumbat mulut barjo dengan tangannya. (Ahhhh, gambar itu lagi-lagi tetap misterius....harusnya barjo cepat menyebutkannya tadi).

tante tuti mendengar suara aneh dari langit. Ia mengira-ngira inilah awal dari malapataka yang disebutkan dalam wasiat suaminya.

Barjo melihat gelagat aneh...
"ada Apa sayanng?
"Pssst...." tante tuti beri isyarat barjo untuk tetap diam
"kenapa sih?"
"pssstttt"
"sebenarnya ada apas sih?"
"pokoknya diam..."

dalam keheningan itu, sms barjo bunyi.
BOS,MANA NOMORNYA EVA ARNAZ?

Tante tuti penasaran dengan isi sms barjo

"Sms dari siapa sih tengah malem gini?"

"orang gila!!!"

lalu suara dari langit makin mendekati daerah yang tak mau disebutkan namanya itu. tante tuti merasa dalam badannya ada yang bergerak. ia coba untuk menahan kekuatan aneh dari dalam tubuhnya itu. cahaya kuning menjelma di seluruh badan metromini. dari dada tante tuti bangkitlah tatonya.

barjo masih asik membalas sms dari dinas kebersihan kerajaan langit.
NOMOR EVA ARNAZ GUA GA PUNYA NANTI GUA TANYA TEMEN

Tato itu telah bangkit. dan barjo tak melihatnya. dan tato berkuasa diatas langit daerah yang tak mau disebutkan naamnya itu. dalam pada itu barjo melihat tante tuti yang pulas tidur.

"waktunya pulang," gumam barjo dalam hati. setelah beri kecupan lembut pada kening tante tuti, Ia pun melangkah pulang dengan hati yang telah lupa dengan sakitnya karena sri lestari.

ia bersiul, bersenandung, melupakan semuanya termasuk tato tante tuti yang sedang marah diatas langit.
begitulah kalau hati sedang girang....

tato tante tuti masih menunggu kedatangan warga kembali ke daerah yang tak mau disebutkan namanya. entah sampai kapan.....

*********         ***********     ******************   

begitulah, hari itu saya membacakan cerita itu di hadapan engkong sobri, koh taslim dan hansip aceng.
"nanti akan gua kasih lu cerita cinta hebat sepanjang masa," kata engkong sobri.
koh taslim dan hansip aceng ternyata dari tadi tidak mendengarkan saya. mereka lebih memilih bermain catur.

"tapi nanti, yang pasti tidak sekarang," kata engkong sobri seraya bangkit dari duduknya melangkah pulang.

"kemana kong," tanya koh taslim
"pulang. gua masuk angin!!!"

Demokrasi Flinstone

Suatu hari, di kelas kuliah saya, ada teman yang tunjuk tangan untuk bertanya pada Saeful Mujani yang kebetulan menjadi dosen hari itu. Ada yang aneh pada pertanyaan dia hari itu. Biasanya kalau anak ini bertanya teman-teman akan berdecak kesal karena pertanyaannya terlalu ngolor-ngidul kemana-mana hingga ga jelas apa yang mau ditanyakan.

hari itu, justru terbalik. teman-teman kelas serentak bertepuk tangan atas pernyataan sekaligus pertanyaannya. Dari pertanyaannya ia menganalisis prilaku politikus tanah air yang sangat tradisionil namun justru terjadi ketika jaman sudah modern. Misalnya, untuk memenangi pilkada tak jarang politikus memakai tak hanya jasa dari konsultan politik tapi juga dari konsultan ahli terawang alias dukun.

Maka sampailah teman saya pada pernyataan bahwa demokrasi di Indonesia itu mirip film kartun flinstone. Dalam film kartun ini memang ada instrumen modern seperti mobil tapi dibuat dari batu sebagai alat penting jaman prasejarah itu. Dengan Demikian, teman saya itu berkesimpulan demokrasi di Indonesia adalah demokrasi flinstone.

Jakarta sedang menunggu pilkada. konstelasinya nampaknya hanyalah pertarungan antara Fauzi Bowo dan Adang Darajatun. Fauzi didukung oleh koalisi besar sedang adang hanya didukung oleh PKS.

Koalisi besar yang mengusung Fauzi Bowo berharap hasil survei yang kerap kali memenangkan Fauzi terbukti pada Pilkada nanti. Konon, mereka mencalonkannya berdasarkan survei itu. Fauzi menjadi begitu seksi dimata koalisi besar itu.

Apa sih yang telah dilakukan Fauzi hingga ia begitu terlihat seksi dan layak jadi Gubernur DKI?

Selama ini Fauzi hanya berada di bewah ketiak Bang Yos. Kalau memang ia dianggap bisa menjadi pembisik setia segala kebijakan bang yos, maka bisikan tak ada bedanya dengan bisikan iblis.

Lihat saja kebijakan basmi kaki lima. Jakarta Macet. jakarta Tidak aman. Jakarta sarat polusi and last but not least...JAKARTA DAERAH TERKORUP. yang terbaru adalah proyek waterway yang akan menghilangkan recehan yang didapat penduduk di daerah itu akibat  pembersihan.

Jadi apa seksinya Fauzi Bowo kalau gitu. Selaku ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) ia tak ada giginya sama sekali kecuali menunggangi papan iklan BNN untuk kampanye. bayangkan, dananya dari kas negara, tapi yang menangguk keuntungan adalah fauzi bowo, calon gubernur incombent yang kalau ditanya soal mundur tidaknya dia dari wagub DKI karena maju jadi calon gubernur selalu risih.
"kalau bersih kenapa harus risih?" kan begitu kata iklan Bank Indonesia.

Kalau memang Fauzi dicalonkan oleh sejumlah parpol besar untuk jadi gubernur hanya karena ia lama jadi PNS dan sering menang di survei dan bukan karena program konkretnya atau aksi politiknya yang lurus disinilah letak prilaku  yang sangat primitif itu.

Parpol kemudian hanya berpikir bagaimana memenangkan pilkada bukan menekankan bagaimana mewujudkan masyarakat yang paham politik serta mendapatkan informasi yang jelas demi partisipasi politiknya sebagai warga negara.

Inilah saya kira semangat yang harus ditanamkan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berperadaban dalam demokrasi bukan justru mengembang biakkan praktek demokrasi flinstone ala teman saya itu.

P.S:
saya tidak membedah adang darajatun bukan berarti saya anggap sosoknya yang pantas jadi Gubernur DKI tapi karena saya hanya menyorot betapa koalisi yang dibangun oleh sejumlah partai besar kontekstual dengan demokrasi flinstone yang dikemukakan teman saya itu







Bajaj (bukan) Bajuri

Konon, cerita bisa lahir dari segala macam situasi, termasuk di lampu merah. cerita di setiap lampu merah adalah cerita menghindari posisi saya dan motor sang motor dari  pantat bajaj. knalpotnya yang selain berisik juga memuntahkan asap yang aje gile. kalo sudah kejebak di belakangnya, saya selalu bergumam dalam hati...duh kenapa musti ada dibelakang dia sih...brengsekkkk!!! begitu lampu hijau saya akan cepat-cepat melewatinya kemudian bergumam dalam hati...S-L-S (maksudnya: so long sucker!!!!)

Bajaj adalah irama transportasi jakarta. sebagai irama maka ada saja penikmatnya, entah itu pengemudi dan keluarganya yang menuai rejeki darinya atau penumpang sebagai pelanggan sejati. tapi sebagai sebuah irama, ada juga yang cuihhh amit-amit dengan kendaraan asal India ini. sebagaimana ada juga yang cuihhh amit-amit dengan irama dangdut, thraz, rock bahkan jazz. saya mungkin masuk kategori yang terakhir.

Saya suka merenung, apa saya salah jika saya mengambil sikap cuihh amit-amit dengan bajaj. akhirnya saya kumpulkan beragam alasan sebagai bentuk apologi sikap saya itu.

pertama, bajaj itu menyebabkan dua polusi, udara dan suara.

kedua, lampu sen sudah tidak beroperasi hingga kalau mau belok kanan atau kiri pengendara lain tidak akan tahu. Bahkan, menurut sohibul hikayat, Tuhan pun tak tahu kemana bajaj akan berbelok. Jelas Ini sangat berbahaya, bukan saja untuk kasus kecelakan lalu lintas tapi juga demi stabilitas negeri langitan. (Masya Allah bajaj, Anda dosa besar, bakalan masuk neraka ente. Tobat!!!)

Ketiga, Bajaj sudah tak sesuai lagi untuk hidup di masyarakat yang doyan mengusung orkestra modernitas.

terakhir, bajaj bisa dijadikan kendaraan para teroris untuk melakukan aksi terornya setelah sistim pengamanan pesawat amat ketat dan mobil box banyak yang dicurigai. tentu saja ini berlebihan tapi namanya juga sedang melakukan pembenaran, alasan apa pun terasa halal..

Tapi....ini yang bikin saya berpikir ulang. berapa banyak keluarga yang bisa makan dari bajaj.

tapi...lagi-lagi saya punya alasan yang mudah-mudahan cukup kuat. Para pengemudi bajaj itu sebagian besar sewa pada pengusaha bajaj. sama seperti kebanyakan tukang ojek dan becak. Jadi sudah sepatutnya kita menyalahkan pengusaha bajaj karena tidak melakukan peremajaan armada. iya dong...mereka kerjaannnya jangan hanya ngejar-ngejar remaja putri dalam bajaj. bukan begitu bukan...

"ente ngomong enak aja, ente mau modalin tuh pengusaha bikin bajaj baru," ini engkong sobri yang ngomong ketika saya membacakan pernyataan sikap saya atas masih beredarnya bajaj di Ibu Kota.

Ah, engkong sobri selalu tidak setuju dengan saya.

"kan bisa minjem kong ke bank, jaminannya apa aja kek, anak perawannya bila perlu, dari pada digondol penyamun mending dibuat jaminan ke para direktur bank," kata saya, tentu saja dalam hati, bisa marah sih engkong kalau denger. Dasar anak muda jaman sekarang,  tak punya pekerti, tak ada sopan santun, ngomong ga pake diayak, and the bre....and the bre...and the bre...

okeh kong...kalo gitu. ini pasti salahnya Bang Yos. Selaku gubernur DKI ternyata ia tidak becus memecahkan persoalan tranportasi ibu kota.

"saya setuju sama kamu, jangan hanya busway yang dipikirin, bajaj juga harus dipikirin. Sutiyoso itu sontoloyo!!!" kata engkong Sobri berapi-api. maksud saya ngomong sambil ngusap-ngusap api rokok yang jatuh di atas sarungnya.

walhasil, jika melihat bajaj, saya jadi teringat kata engkong sobri soal siapa yang berhak diberi gelar sontoloyo.

"udah gau mau pulang, mau nonton si bajuri ama bajajnya," kata engkong sobri sambil berlalu.

terima kasih kong. titip salam buat oneng...

…tentang Selebriti juga Manusia

Mungkin anda pernah ingat sinetron ‘selebriti juga manusia’ (SJM) yang ditayangkan oleh Trans TV. Mungkin anda juga ingat bahwa salah satu episodenya berjudul “selingkuh, politik dan penjahat kelamin” diprotes oleh Partai Amanat Nasional (PAN). Atau anda mungkin juga sudah tahu bahwa Pimpinan Trans TV dan pihak Indika Entertaniment sebagai pihak yang memproduksi sinetron ini kini dalam proses penyelidikan Polda Metro Jaya  akibat tayangannya itu. Mungkin juga anda lupa atau malah tidak tahu sama sekali. Baiklah, saya akan ceritakan sedikit kisah SJM episode “selingkuh, politik dan penjahat kelamin” yang menuai protes tersebut.

SJM adalah sinetron yang mengangkat masalah-masalah nyata diseputar dunia selebriti. Pada tanggal 9 Agustus 2006, SJM mengangkat masalah konflik rumah tangga Nia Paramita dan Gusti Randa ke dalam sinetronnya dengan judul “selingkuh, politik dan penjahat kelamin”.

Beberapa minggu sebelumnya publik telah dicekoki oleh televisi lewat tayangan infotainment prihal keretakan rumah tangga Nia dan Gusti. Pada retaknya bahtera rumah tangga Nia dan Gusti itu tersebutlah nama Sutrisno Bachir, pimpinan PAN. Menurut rumor versi infotainment, diantara Nia dan Sutrisno telah terjalin benih-benih cinta. Nah, gossip inilah yang kemudian disinetronkan oleh pihak indika kedalam SJM.

Dalam SJM episode ‘selingkuh, politik dan penjahat kelamin’ nama tokoh yang dikaitkan dengan sosok Nia bernama Mia yang diperankan oleh Nia Paramita sendiri, sedang Gusti randa langsung memerankan tokoh bernama Gustaf. Sutrisno Bachir diasosiasikan dengan tokoh Sutrisno Bahar dari partai bernama PAM (Partai Azaz Moral). Dalam cerita tersebut, Mia hamil oleh Sutrisno Bahar.

Rencananya untuk isu ini pihak indika dan trans TV akan menayangkan dua babak episode, tapi baru babak pertama  sinetron ini dihentikan akibat tuntutan PAN dan permintaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Bagi PAN, SJM telah melakukan pembodohan kepada publik dengan cara mengonstruksi realitas rumor menjadi realitas faktual. PAN juga menyimpulkan bahwa tayangan tersebut sebagai propaganda murahan dengan maksud pembunuhan karakter terhadap pihak tertentu, dilakukan secara tidak fair dan menimbulkan kerugian bagi pihak lain baik individu maupun lembaga.

KPI sepakat dengan PAN bahwa SJM episode “selingkuh, partai politik dan penjahat kelamin” telah melakukan pembunuhan karakter atau character assanation terhadap pimpinan PAN. Jika terbukti, maka Trantu Tv dan Indika melanggar pasal 36 UU penyiaran 2002 serta Panduan Prilaku  Penyiaran-Standar Program Siaran(P3-SPS) dengan tuntutan lima tahun penjara dan/atau denda maksimal sepuluh milyar.

Bagi KPI, SJM  mengandung cacat etik karena secara disengaja berusaha menyiasati prinsip akurasi, keberimbangan dan objektifitas dalam menyampaikan informasi.

Untuk menganalisi kasus ini, kiranya kita perlu memperlukannnya secara proporsional. Sebuah proses komunikasi tak lepas dari yang namanya konteks. Komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa. Ketika teman anda dengan serta merta memukul kepala anda, maka anda mungkin akan berpikir apakah ia serius atau sedang bercanda dengan anda. Serius atau bercanda itulah kemudian menjadi konteks komunikasi non verbal yang dilakukan teman anda kepada anda. Jika konteksnya mengatakan bahwa teman anda sedang bercanda dengan anda maka anda akan melihat bahwa perlakuan teman anda yang memukul kepala anda adalah hal biasa. Jika anda berpikir ia serius, maka tentu anda akan memakai jurus tertentu sebagai reaksi dari tindakan teman anda. Mungin teman anda tak perlu menyatakan secara langsung bahwa ia sedang bercanda atau tidak ketika memukul kepala anda. Tapi,  lamanya jalinan hubungan anda dengannya dapat membuat anda mengerti simbol-simbol yang dilemparkan teman anda kepada anda. Disini, kontekslah yang lebih berbicara

Perlakuan yang sama dapat kita lakukan  ketika kita dihadapkan pada tayangan sebuah sinetron ataupun film atau berita. Berita lebih mengedepankan prinsip kebenaran, aktualitas, keberimbangan dan prinsip-prinsip lain yang menjadi dasar dari jurnalisme. Sedang dalam film ataupun sinetron, kata kuncinya adalah imajinasi. Artinya, pada proses pembuatan sinetron atupun film, imajinasi dibiarkan berkembang sedemikian liar demi pencapaian hasil yang maksimal. Imajinasi bisa jauh dari realitas atau justru menjadi potret dari realitas itu sendiri. Bahkan imajinasi  bisa menghasilkan dunia supranatural atau melampaui dunia nyata.

Berita didasari oleh kenyataan sedang film atau sinetron menjadikan fiksi dan imajinasi sebagai pijakan utamanya. Memang, pada beberapa kasus ada film yang didasari oleh kisah nyata, tapi kita harus paham bahwa realitas yang telah ditampilkan oleh film tersebut adalah realitas kedua setelah melewati tahap penafsiran. Bahkan, beberapa kalangan pun menilai bahwa sebuah peristiwa atau kenyataan yang beritakan oleh sebuah institusi media

massa

telah menjadi realitas tingkat dua karena adanya proses rekonstruksi sosial yang dimainkan oleh pengelola media.

Tapi, untuk kasus SJM, KPI menilai pihak Indika hanya berlindung dari dibalik kata ‘fiksi’ dan menyiasati prinsip jurnalistik yang menjadi dasar dari pemberitaan aktual. Dengan demikian kategori konteks dari ‘fiksi’ menjadi kabur.

Indika sendiri terjebak pada ambiguitas ini. Jika sebuah peristiwa masuk kedalam dunia sinetron maka peristiwa tersebut diamini sebagai hal yang fiksi. Namun, indika justru mengakui bahwa konsep SJM adalah kisah orisinil dari kehidupan para selebriti. Apalagi Indonesian Book of record juga pernah menganugerahkan indika untuk SJM sebagai sinetron cerita paling orisinil karena mengisahkan selebriti yang dimainkan oleh selebriti itu sendiri.

Apapun pengakuan yang diberikan indika di awal-awal penayangan SJM, kita harus menempatkannya pada zona dimana sebuah peristiwa atau cerita itu hidup. Setidaknya, kita lebih menekankan pada konteks dimana peristiwa atau cerita itu bermain. Dan, apapun klaim indika, perusahaan ini menempatkan SJM dalam konteks sinetron yang unsur cerita lebih didasari pada imajinasi dalam dunia fiksi.

Bagaimanapun, kita harus angkat topi untuk usaha yang dilakukan KPI. Tapi, paling tidak, agar tak terjebak pada kekaburan makna, perlu ditetapkan kategori fiksi dan non fiksi.

Kita tak ingin kebebasan berekspresi hancur karena aroganisme yang dimainkan oleh penguasa atapun partai politik. Jika itu terjadi maka ruang kritis menjadi lebih sempit. Ini sangat membahayakan demokrasi yang sedang kita bangun di

Indonesia

.

…tentang perumusan sejarah

Pada tanggal 5 Oktober yang merupakan hari jadi TNI, Engkong Sobri tak mau ketinggalan dengan TNI. Ia bercerita bahwa dirinya juga tak kalah heroic dengan TNI karena ikut berjuang pada masa agresi militer Belanda. Oleh karena itu, nanti ketika bangsa ini merayakan hari pahlawan ia minta saya membelikan martabak untuknya sebagai penghargaan saya pada beliau. Tapi, kata Engkong Sobri hal ini jangan sampai ketahuan Mak Naroh, istri beliau.

Saya sudah tahu kenapa Mak Naroh tidak boleh tahu oleh Engkong Sobri. Karena, Mak Naroh akan komentar bahwa Engkong Sobri tidak pernah berjuang apa-apa. Kala itu Engkong Sobri hanya berjuang untuk mendapatkan cinta gadis bertompel asal Bojong Kenyot. Jika mengenang peristiwa ini, kecemburuan Mak Naroh memuncak hingga keubun-ubunnya. Jika cemburu memuncak di kepala Mak Naroh, maka Mak Naroh akan cuap-cuap tak terkendali akan hal itu tadi, bahwa Engkong Sobri tak pernah berjuang pada agresi militer, ia hanya berjuang ngejar-ngejar gadis bertompel asal bojong kenyot. Bagi Engkong Sobri, ini adalah sebuah pemutarbalikkan sejarah. Sebuah pembunuhan karakter. 

Sebuah peristiwa tidak lahir dari ruang yang kosong. Banyak pihak yang terlibat sekaligus menjadi saksi. Pada perjalanan waktu, sebuah peristiwa kemudian menjadi sebuah sejarah. Peristiwa yang telah melepaskan diri dari waktunya itulah yang dimanai sejarah. Ia telah lepas dari waktu, tapi orang masih melihatnya sebagai sebuah peristiwa. Karenanya, agar tak dilupakan, ia sengaja diabadikan.

Pada proses pengabadian sejarah ini, muncul penafsiran.

Ada

penafsiran yang tunggal dengan sebuah hegemoni, ada juga penafsiran yang majemuk. Penafsiran sangat ditentukan oleh relasi seorang dengan peristiwa yang meliputi hubungan kelas, gender, ideology dan kekuasaan. Itulah mengapa sebuah peristiwa tak luput dari yang namanya kepentingan.

Kemajemukan penafsiran menimbulkan wacara perang yang ujung-ujungnya adalah terciptanya hegemoni pemaknaan pada sebuah peristiwa. Dalam perang penafsiran ini berkaitan dengan konsep ‘who gets what to say what’. Berdasarkan hal itu, kekuasaan menjadi alat yang penting dalam proses hegemoni pemakanaan itu. Dari sini dikenalah apa yang disebut orang dengan kalimat ‘sejarah adalah milik penguasa’. Tak heran jika ada yang beranggapan bahwa sejarah hanya akan membuat senang penulisnya dan orang-orang yang dekat dengannya.

Penulisan sejarah adalah pertarungan citra. Pembentukkan citra yang akan memihak pada penulisan sejarah dimaksud atau justru yang terjadi adalah proses penghancuran.

Sebut saja, tragedy holocaust di eropa pada perang dunia kedua. Dari peristiwa ini lahir dualisme penulisan sejarah. Anggapan pertama mengatakan bahwa tragedi pemusnahan 6 juta ras yahudi itu benar adanya. Anggapan kedua justru meragukan peristiwa tersebut. Dalam pertarung penulisan sejarah holocout ini pemenanganya adalah anggapan pertama yang mengatakan bahwa pemusnahan ras yahudi oleh Nazi memang benar adanya. Kemudian pada beberpa kasus, mereka yang meyakini angggapan kedua justru mendapatkan alienasi dari dunia sosialnya. Namun demikian, belakangan, anggapan kedua ini dimunculkan kembali oleh presiden Iran, Mahmoud Ahmad Dinejad yang mengatakan bahwa holocaust hanyalah sebuah mitos, dan Palestina justru yang menagguk kerugian dari mitos tersebut.

Untuk kasus

Indonesia

pada saat sekarang ini, dua hal yang memiliki keterkaitan dengan tulisan ini adalah peperangan mantan presiden Habibie vs Prabowo serta kasus penghilangan frase PKI dari buku pelajaran sejarah kelas tiga SMU.

Pada kasus pertama (Habibie vs Prabowo) kita bisa pelihat adanya perbedaan pendapat dalam proses ‘penulisan sejarah’. Habibie menuduh Prabowo berniat melakukan kudeta pada saat dirinya menjadi presiden tapi Prabowo dengan lantang segera menangkisnya.

Dari pertarungan pendapat ini orang dapat merangkumnya menjadi kesimpulan yang akan diyakininya. Entah itu pendapatnya Habibie atau pembelaan Prabowo. Keperbihakan orang pada siapa pun itu tergantung relasi jaringan sosial atau komunitas orang tersebut dengan kedua tokoh diatas. Akhirnya, pemenang dari pertarungan Habibie vs Prabowo lebih ditentukan oleh sejauh mana keduanya memiliki simpul-simpul jaringan sosial di masyarakat.

Pada kasus kedua yaitu  penghilangan frase PKI dengan telanjang memperlihatkan kepada kita bagaimana sebuah proses pencucian citra masih terus terjadi meskipun mayoritas kalangan di tanah air meyakini bahwa PKI adalah dalang dari peristiwa 30 September. Saya tidak melihatnya sebagai sebuah ketidaksengajaan.

Ada

sebuah proses yang apik dan cerdik yang bermain didalamnya yang punya kepentingan untuk kembali menghidupkan wacana bahwa ketelibatan PKI dalam peristiwa 30 september aadalah hal yang masih perlu diperdebatkan.

Pada proses penyusunan kurikulum sejarah itu, Depdiknas melakukan konsultasi dengan pakar sejarah, guru senior dan pakar psikologi anak. Dari situ disepakati sebuah kurikulum sejarah yang menjadi ruh bagi penulisan buku-buku yang akan dikonsumsi anak sekolah. Dari rantai ini dapat diterka dengan jelas, siap pihak-pihak yang ingin mewacanakan kembali perdebatan keterlibatan PKI dalam peristiwa 30 September sekaligus menciptakan penulisan sejarah yang tidak tunggal.