« | Main | »

…tentang perumusan sejarah

Pada tanggal 5 Oktober yang merupakan hari jadi TNI, Engkong Sobri tak mau ketinggalan dengan TNI. Ia bercerita bahwa dirinya juga tak kalah heroic dengan TNI karena ikut berjuang pada masa agresi militer Belanda. Oleh karena itu, nanti ketika bangsa ini merayakan hari pahlawan ia minta saya membelikan martabak untuknya sebagai penghargaan saya pada beliau. Tapi, kata Engkong Sobri hal ini jangan sampai ketahuan Mak Naroh, istri beliau.

Saya sudah tahu kenapa Mak Naroh tidak boleh tahu oleh Engkong Sobri. Karena, Mak Naroh akan komentar bahwa Engkong Sobri tidak pernah berjuang apa-apa. Kala itu Engkong Sobri hanya berjuang untuk mendapatkan cinta gadis bertompel asal Bojong Kenyot. Jika mengenang peristiwa ini, kecemburuan Mak Naroh memuncak hingga keubun-ubunnya. Jika cemburu memuncak di kepala Mak Naroh, maka Mak Naroh akan cuap-cuap tak terkendali akan hal itu tadi, bahwa Engkong Sobri tak pernah berjuang pada agresi militer, ia hanya berjuang ngejar-ngejar gadis bertompel asal bojong kenyot. Bagi Engkong Sobri, ini adalah sebuah pemutarbalikkan sejarah. Sebuah pembunuhan karakter. 

Sebuah peristiwa tidak lahir dari ruang yang kosong. Banyak pihak yang terlibat sekaligus menjadi saksi. Pada perjalanan waktu, sebuah peristiwa kemudian menjadi sebuah sejarah. Peristiwa yang telah melepaskan diri dari waktunya itulah yang dimanai sejarah. Ia telah lepas dari waktu, tapi orang masih melihatnya sebagai sebuah peristiwa. Karenanya, agar tak dilupakan, ia sengaja diabadikan.

Pada proses pengabadian sejarah ini, muncul penafsiran.

Ada

penafsiran yang tunggal dengan sebuah hegemoni, ada juga penafsiran yang majemuk. Penafsiran sangat ditentukan oleh relasi seorang dengan peristiwa yang meliputi hubungan kelas, gender, ideology dan kekuasaan. Itulah mengapa sebuah peristiwa tak luput dari yang namanya kepentingan.

Kemajemukan penafsiran menimbulkan wacara perang yang ujung-ujungnya adalah terciptanya hegemoni pemaknaan pada sebuah peristiwa. Dalam perang penafsiran ini berkaitan dengan konsep ‘who gets what to say what’. Berdasarkan hal itu, kekuasaan menjadi alat yang penting dalam proses hegemoni pemakanaan itu. Dari sini dikenalah apa yang disebut orang dengan kalimat ‘sejarah adalah milik penguasa’. Tak heran jika ada yang beranggapan bahwa sejarah hanya akan membuat senang penulisnya dan orang-orang yang dekat dengannya.

Penulisan sejarah adalah pertarungan citra. Pembentukkan citra yang akan memihak pada penulisan sejarah dimaksud atau justru yang terjadi adalah proses penghancuran.

Sebut saja, tragedy holocaust di eropa pada perang dunia kedua. Dari peristiwa ini lahir dualisme penulisan sejarah. Anggapan pertama mengatakan bahwa tragedi pemusnahan 6 juta ras yahudi itu benar adanya. Anggapan kedua justru meragukan peristiwa tersebut. Dalam pertarung penulisan sejarah holocout ini pemenanganya adalah anggapan pertama yang mengatakan bahwa pemusnahan ras yahudi oleh Nazi memang benar adanya. Kemudian pada beberpa kasus, mereka yang meyakini angggapan kedua justru mendapatkan alienasi dari dunia sosialnya. Namun demikian, belakangan, anggapan kedua ini dimunculkan kembali oleh presiden Iran, Mahmoud Ahmad Dinejad yang mengatakan bahwa holocaust hanyalah sebuah mitos, dan Palestina justru yang menagguk kerugian dari mitos tersebut.

Untuk kasus

Indonesia

pada saat sekarang ini, dua hal yang memiliki keterkaitan dengan tulisan ini adalah peperangan mantan presiden Habibie vs Prabowo serta kasus penghilangan frase PKI dari buku pelajaran sejarah kelas tiga SMU.

Pada kasus pertama (Habibie vs Prabowo) kita bisa pelihat adanya perbedaan pendapat dalam proses ‘penulisan sejarah’. Habibie menuduh Prabowo berniat melakukan kudeta pada saat dirinya menjadi presiden tapi Prabowo dengan lantang segera menangkisnya.

Dari pertarungan pendapat ini orang dapat merangkumnya menjadi kesimpulan yang akan diyakininya. Entah itu pendapatnya Habibie atau pembelaan Prabowo. Keperbihakan orang pada siapa pun itu tergantung relasi jaringan sosial atau komunitas orang tersebut dengan kedua tokoh diatas. Akhirnya, pemenang dari pertarungan Habibie vs Prabowo lebih ditentukan oleh sejauh mana keduanya memiliki simpul-simpul jaringan sosial di masyarakat.

Pada kasus kedua yaitu  penghilangan frase PKI dengan telanjang memperlihatkan kepada kita bagaimana sebuah proses pencucian citra masih terus terjadi meskipun mayoritas kalangan di tanah air meyakini bahwa PKI adalah dalang dari peristiwa 30 September. Saya tidak melihatnya sebagai sebuah ketidaksengajaan.

Ada

sebuah proses yang apik dan cerdik yang bermain didalamnya yang punya kepentingan untuk kembali menghidupkan wacana bahwa ketelibatan PKI dalam peristiwa 30 september aadalah hal yang masih perlu diperdebatkan.

Pada proses penyusunan kurikulum sejarah itu, Depdiknas melakukan konsultasi dengan pakar sejarah, guru senior dan pakar psikologi anak. Dari situ disepakati sebuah kurikulum sejarah yang menjadi ruh bagi penulisan buku-buku yang akan dikonsumsi anak sekolah. Dari rantai ini dapat diterka dengan jelas, siap pihak-pihak yang ingin mewacanakan kembali perdebatan keterlibatan PKI dalam peristiwa 30 September sekaligus menciptakan penulisan sejarah yang tidak tunggal.

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .