Sepak bola, LSI dan Tuhan
Bagi saya, pertandingan tadi malam antara Prancis versus Rumania dalam laga Euro 2008 adalah pertandingan yang sangat membosankan. Kedua tim memainkan nada permainan yang sangat datar.
Sepanjang pertandingan, saya berada dalam kegalauan memegang remote televise. Antara harus zapping sana-sini untuk pindah channel atau tetap memelototi lapangan hijau, dengan harapan ada gol yang saya pergoki. Nyatanya, tidak satu pun gol tercipta sepanjang dua kali empat puluh lima menit. Hiburan pun terasa hambar.
Sejenak saya berpikir, barang kali lembaga survei seperti LSI (mau yang versi Saiful Mujani atau Deni JA) bisa berperan pada kasus pertandingan sepakbola. Ini penting, agar tidak ada waktu terbuang percuma dengan menonton televise karena permainan yang sangat membosankan itu. 90 menit terbuang percuma bagi mereka yang punya hobi tidur.
Saya pun berhayal…
Suatu tempo, LSI merilis sebuah survei partai Final antara Jerman versus Belanda euro 2008, satu hari jelang pertandingan dua musuh bebuyutan ini.
“Jerman menang 2-1 atas Belanda dengan sample eror plus minus satu”, demikian hasil survei LSI
Argumen mereka:
Metode kami memadukan konsep ilmu pengetahuan dengan ilmu terawang. Pemilihan sample kami lakukan dengan sangat hati-hati dengan asas kredibilitas yang dimiliki para ahli terawang. Hasil telah survei kami uji berkali-kali, lintas batas, kelamin dan strata sosial, hasilnya tetap sama:Jerman menang 2-1
Nah, paling tidak, jika hasilnya sudah ketahuan, masalahnya kemudian percaya atau tidak percaya. Mereka yang pro Belanda mungkin akan meludahi hasil survei LSI itu. Sebaliknya, mereka yang pro Jerman akan mempersiapkan ritual menonton tim kesayangnnya dengan suka cita karena kemenangan sudah di atas kertasnya LSI. Akibatnya, pilihan menonton televise sebagai media hiburan menjadi sebuah keniscayaan. Barangkali, pada saat yang sama, pendukung Belanda jangan berharap hiburan terlalu banyak dari tayangan televise saat itu karena hanya akan bermandikan air mata. Paling tidak, LSI kali ini tidak hanya membaca kecenderungan politik seorang pemilih pada satu arena pilkada saja seperti yang sering mereka lakukan, namun juga berusaha membaca kecenderungan takdir tuhan.
##### ########## ############## #########################
Hayalan saya pupus saat menyaksikan Belanda versus Itali pada laga berikutnya dini hari tadi. Belanda bermain dengan sangat hebat. Itali mereka tekuk dengan skor 0-3. Pertandingannya begitu menegangkan.
Saya kemudian berpikir untuk menghapus hayalan saya sebelumnya. Biarlah sebuah pertandingan sepakbola tetap misterius, agar semuanya tetap tegang.
Tentunya, para pemilik modal akan sangat setuju dengan hal ini karena yang demikian hanya akan membuat penonton televise tetap berada di depan layar.
Ahhh, takdir tuhan memang berbau kapitalis…
Saya hanya bisa beristigfar karena menuduh yang tidak-tidak…
Ini semua gara-gara kalah taruhan…
Waduh…jadi ketahuan main judi kan…
Ampun Tuhaaaannnnn….
Ciao!!!
Terminal Senja,
Salman Hasky

Comments